Thursday, September 14, 2017

Paham, Mau, dan Ingin


(1) Jika kita telah memahami suatu hal dengan baik; darimana semua ini bermula, apa yang harus dilakukan, dan apa tujuan yang ingin dicapai dari kesemua itu,

Bisa dipastikan kita bisa memilih dengan baik; mana yang sesuai dengan pemahaman (1) dan mana yang tidak

Hal ini bisa jadi karena: hati kecil kita yang merasa 'tidak nyaman' (internal things), atau dorongan dari orang, lingkungan, ataupun fakta-fakta di sekitar (external things)

Idealnya.

Namun faktanya, nafsu suka ikutan main. Jarang membantu, seringkali mengganggu fokus.


..pandangan mata selalu menipu
pandangan akal selalu tersalah
pandangan nafsu selalu melulu
pandangan hati itu yang hakiki
kalau hati itu bersih..

—Hijjaz, Mata Hati


*tulisan ini sangat terinspirasi dari kisah teh Laudya dan Engku Emran 😜
*PR baru: perawatan hati (tidak hanya tubuh dan makanan)

Sunday, August 27, 2017


Logikanya; bersabar dan menikmatinya dengan melakukan respon yang baik hanya bisa dilakukan jika kita tau hasil yang kita akan dapat sesuai dengan jerih upaya sabar kita.



Jadi, berikanlah sabar pada hal-hal yang worth untuk disabarkan.

Thursday, August 17, 2017

Ketahuilah;


Sejak kecil selalu penasaran kenapa mama sering nulis potongan ayat ini di semua album foto di rumah. Terasa tidak nyambung (saat itu) ..Hingga akhirnya lulus kuliah dan nyicipin rasanya jadi young adult dan (alhamdulillah) kerja. Hm rasanya..

Senang sekali, mumet sekali dan melelahkan sekali.


Senang karena akhirnya bisa berdiri di atas kaki sendiri, senang karena pendapat kita di dengar dan di percaya, senang karena apa yang kita lakukan memberi manfaat. Namun juga mumet karena harus tricky ketika ingin honest, harus marathon sambil sprint ketika inginnya jogging.

..daaaan yang paling melelahkan adalah: ketika tak habis-habisnya menonton (yang-tak-jarang-berakhir-dengan-ikut-bergumul) orang-orang di luar sana yang sibuk mengejar capaian; entah target, impresi, posisi, materi, atau sekedar impulsif memenuhi gengsi.



Capek? Jangan ditanya.
Marah? Tentu.
Putus asa? Sering.


Lantas harus gimana?
Supaya semua yang dilakukan tidak menjadi sia-sia?


--

Mengutip kembali nasehat Ust. Salim A Fillah tentang bekerja (yang bisa direlasikan ke banyak hal): 

"Rizki adalah jaminan, menjemputnya adalah ujian. Bekerja adalah ibadah kita; 'itqan, ihsan, ikhlas; bukan mencari rizki, namun mencari pahala. Sebab kita harus memindahkan kekhawatiran, dari yang dijamin kepada yang belum dijamin, yakni: akanlah pulang kita ke surga?"

Kalo dipikir-pikir, bener juga. Semuanya sudah pasti dan tidak akan tertukar. Kenapa malah pusing dan menghabiskan fokus di sana; sedangkan ada hal yang justru lebih perlu diperhatikan.


Ya.. bismillah. Semoga ngga hilang fokus lagi.

Saturday, August 5, 2017

Different Strength

[EDITED]

Jauh sebelum mengenal dunia praktik arsitektur, aku selalu beranggapan bahwa kemampuan seorang arsitek dalam mengolah bentuk sangat menentukan kesuksesannya menjadi seorang arsitek.

Anggapan ini rasa-rasanya muncul karena pada jaman kuliah istilah distinct architecture dan sobat yang sangat relate dengannya, yakni starchitect (masa itu), terlihat sangat keren dan wow. Semakin distinct (terutama urusan fasad) akan semakin bagus. Semakin beda semakin bagus.

Anggapan itu kemudian semakin kuat seiring melihat atmosfer persaingan di dunia persayembaraan arsitektur.

Bagi aku pribadi, sayembara itu semacam titik maksimal pertempuran gengsi dan ego. Dengan pengorbanan waktu dan energi yang kita punya, kita pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menang. Dan prinsip judge book by its cover itu benar-benar berlaku. Harus maksimal apalagi di lembar judul. Dan berhubung wujud yang diminta (kebanyakan) berupa lembar berisi gambar dan tulisan, akhirnya terbentuklah persepsi ikut sayembara = harus bikin bentuk yang eyecatching bagi juri (atleast bagi aku).

Memang ngga bisa dipungkiri kalo trend first impression orang terhadap arsitektur seringkali melalui apa yang tampak (visual). Hal ini dikuatkan dengan kritik Pak Pallasmaa mengenai berubahnya kultur mendesain, dari 5 indera dan 3 dimensional feels menjadi visual oriented dan 1 dimensional feels (1).

--

Pada suatu kesempatan, aku membaca buku kumpulan 70 karya terbaik partisipan sayembara ARRBI Design Award 2013. ARRBIDA ini sayembara yang diadakan oleh Asosiasi Ritel Bahan Bangunan Indonesia. Sayembara ini telah beberapa kali diselenggarakan dengan berbagai tema yang menarik. Juri dan jumlah hadiahnya pun tidak main-main. Aku sendiri mengikuti sayembara ini namun, tetot, jadi pengisi waktu saja hasilnya. ha-ha.

Ok kembali ke bahasan. Jadi, bagian paling menarik dari buku ini adalah: panel karya pemenang pertamanya sama sekali tidak se-wah karya lainnya. Bentuknya simpel kayak rumah biasa. Ngga terlalu banyak mainin fasad layaknya karya di halaman setelahnya. Rendernya juga minimal, bersih, putih. Namun ide yang dibawanya, euh, so simple yet so brilliant. Wajar lah beliau ini didapuk jadi pemenang.

Abis baca itu buku lantas jadi mikir: kayaknya yang bisa menang ngga cuma yang form-oriented. Dan sejak saat itu jadi mulai meragukan kehandalan metode form-oriented. Rasa-rasanya semua metode menjadi mungkin, selama itu tepat waktu dan guna.

Setelah masa kuliah yang diisi dengan bersayembara, kisah pencarian tersebut berlanjut lagi. Dan kali ini di dunia praktik profesional. Di titik ini juga lah akhirnya sebagian pertanyaan terjawab (akhirnya..).

Saat ini aku bekerja di sebuah konsultan arsitektur dengan spesialisasi high rise (tower kantor, apartemen, hotel) dan big mass building (bangunan bermassa besar/banyak seperti mall, landed hotel, resort, atau bahkan masterplan). Di kantor tempatku bekerja, meski trend pasar yang ada masih form-and-profit oriented, akan tetapi ada aja pekerjaan dengan kebutuhan "strength" di luar kemampuan form oriented. Baik itu di ranah proses desain (pendekatan/metode desain), ataupun di luar itu.

Kenapa begitu? Sebab bekerja di konsultan itu merupakan serangkaian proses. Dalam mengerjakan sebuah proyek, ada banyak tahapan dan hal yang mesti didesain hingga akhirnya sebuah proyek lengkap dan siap dibangun. Kalo waktu kuliah biasanya kita bebas hanya mikirin desain secara general (fitur utama bangunan), saat kerja kita dituntut untuk bisa ngedesain dan melengkapi semuanya: mau itu konsep lansekap, konsep interior, konsep efisiensi dan fleksibilitas ruang, atau bahkan sampai konsep tata cahaya si bangunan. Masing-masing meski sama-sama mendesain tentu memiliki goal dan constrain yang berbeda. Dan tak ayal kondisi tersebut kemudian memunculkan dan membentuk "strength" masing-masing orang pada hal yang berbeda:

Ada yang jago olah denah supaya muat semuanya.
Ada juga yang jago olah komposisi shading jendela supaya kesan maskulinnya dapet.

Ada yang jago olah landscape yang merhatiin sequence pengalaman ruang penggunanya.
Ada juga yang jago olah denah yang tau-tau pas di extrude di SketchUp jadi seru banget ruangnya.

Ada yang jago menangkap bahasa si bangunan dan menuangkannya ke interiornya. 
Ada juga yang jago menemuka titik yang tepat untuk lampu-lampu di simulasi render sehingga bangunannya jadi standout dan berkarakter.

Dan lainnya.
Dan lainnya.
Dan lainnya. 

Macem-macem sekali lah pokoknya strength setiap orang.
Jago-jago banget dan sangat-sangat seru!
Semoga bisa dipelajari, soon.

Alhamdulillah ala kuli hal.
(segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan)

--

Note:

(1)  "The computer is usually seen as a solely beneficial invention, which liberates human fantasy and facilitates efficient design work. I wish to express my serious concern in this respect, at least considering the current role of the computer in education and the design process. Computer imaging tends to flatten our magnificent, multi-sensory, simultaneous and synchronic capacities of imagination by turning the design process into a passive visual manipulation, a retinal journey. The computer creates a distance between the maker and the object, whereas drawing by hand as well as working with models put the designer in a haptic contact with the object, or space. In our imagination, the object is simultaneously held in the hand and inside the head, and the imagined and projected physical image is modelled by our embodied imagination. We are inside and outside of the conceived object at the same time." —Juhani Pallasmaa, The Eyes of The Skin: Architecture and The Senses

Monday, July 31, 2017

Marah? Marah!

Kamu marah?
Kamu marah!

Aku marah?
Aku marah!

Intonasi memberi energi?
Intonasi memberi energi!

--

Merendah dan meninggi, marah itu butuh intonasi supaya terlihat marah.

Well.. kamu marah? Aku marah!