Saturday, August 5, 2017

Different Strength

[EDITED]

Jauh sebelum mengenal dunia praktik arsitektur, aku selalu beranggapan bahwa kemampuan seorang arsitek dalam mengolah bentuk sangat menentukan kesuksesannya menjadi seorang arsitek.

Anggapan ini rasa-rasanya muncul karena pada jaman kuliah istilah distinct architecture dan sobat yang sangat relate dengannya, yakni starchitect (masa itu), terlihat sangat keren dan wow. Semakin distinct (terutama urusan fasad) akan semakin bagus. Semakin beda semakin bagus.

Anggapan itu kemudian semakin kuat seiring melihat atmosfer persaingan di dunia persayembaraan arsitektur.

Bagi aku pribadi, sayembara itu semacam titik maksimal pertempuran gengsi dan ego. Dengan pengorbanan waktu dan energi yang kita punya, kita pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menang. Dan prinsip judge book by its cover itu benar-benar berlaku. Harus maksimal apalagi di lembar judul. Dan berhubung wujud yang diminta (kebanyakan) berupa lembar berisi gambar dan tulisan, akhirnya terbentuklah persepsi ikut sayembara = harus bikin bentuk yang eyecatching bagi juri (atleast bagi aku).

Memang ngga bisa dipungkiri kalo trend first impression orang terhadap arsitektur seringkali melalui apa yang tampak (visual). Hal ini dikuatkan dengan kritik Pak Pallasmaa mengenai berubahnya kultur mendesain, dari 5 indera dan 3 dimensional feels menjadi visual oriented dan 1 dimensional feels (1).

--

Pada suatu kesempatan, aku membaca buku kumpulan 70 karya terbaik partisipan sayembara ARRBI Design Award 2013. ARRBIDA ini sayembara yang diadakan oleh Asosiasi Ritel Bahan Bangunan Indonesia. Sayembara ini telah beberapa kali diselenggarakan dengan berbagai tema yang menarik. Juri dan jumlah hadiahnya pun tidak main-main. Aku sendiri mengikuti sayembara ini namun, tetot, jadi pengisi waktu saja hasilnya. ha-ha.

Ok kembali ke bahasan. Jadi, bagian paling menarik dari buku ini adalah: panel karya pemenang pertamanya sama sekali tidak se-wah karya lainnya. Bentuknya simpel kayak rumah biasa. Ngga terlalu banyak mainin fasad layaknya karya di halaman setelahnya. Rendernya juga minimal, bersih, putih. Namun ide yang dibawanya, euh, so simple yet so brilliant. Wajar lah beliau ini didapuk jadi pemenang.

Abis baca itu buku lantas jadi mikir: kayaknya yang bisa menang ngga cuma yang form-oriented. Dan sejak saat itu jadi mulai meragukan kehandalan metode form-oriented. Rasa-rasanya semua metode menjadi mungkin, selama itu tepat waktu dan guna.

Setelah masa kuliah yang diisi dengan bersayembara, kisah pencarian tersebut berlanjut lagi. Dan kali ini di dunia praktik profesional. Di titik ini juga lah akhirnya sebagian pertanyaan terjawab (akhirnya..).

Saat ini aku bekerja di sebuah konsultan arsitektur dengan spesialisasi high rise (tower kantor, apartemen, hotel) dan big mass building (bangunan bermassa besar/banyak seperti mall, landed hotel, resort, atau bahkan masterplan). Di kantor tempatku bekerja, meski trend pasar yang ada masih form-and-profit oriented, akan tetapi ada aja pekerjaan dengan kebutuhan "strength" di luar kemampuan form oriented. Baik itu di ranah proses desain (pendekatan/metode desain), ataupun di luar itu.

Kenapa begitu? Sebab bekerja di konsultan itu merupakan serangkaian proses. Dalam mengerjakan sebuah proyek, ada banyak tahapan dan hal yang mesti didesain hingga akhirnya sebuah proyek lengkap dan siap dibangun. Kalo waktu kuliah biasanya kita bebas hanya mikirin desain secara general (fitur utama bangunan), saat kerja kita dituntut untuk bisa ngedesain dan melengkapi semuanya: mau itu konsep lansekap, konsep interior, konsep efisiensi dan fleksibilitas ruang, atau bahkan sampai konsep tata cahaya si bangunan. Masing-masing meski sama-sama mendesain tentu memiliki goal dan constrain yang berbeda. Dan tak ayal kondisi tersebut kemudian memunculkan dan membentuk "strength" masing-masing orang pada hal yang berbeda:

Ada yang jago olah denah supaya muat semuanya.
Ada juga yang jago olah komposisi shading jendela supaya kesan maskulinnya dapet.

Ada yang jago olah landscape yang merhatiin sequence pengalaman ruang penggunanya.
Ada juga yang jago olah denah yang tau-tau pas di extrude di SketchUp jadi seru banget ruangnya.

Ada yang jago menangkap bahasa si bangunan dan menuangkannya ke interiornya. 
Ada juga yang jago menemuka titik yang tepat untuk lampu-lampu di simulasi render sehingga bangunannya jadi standout dan berkarakter.

Dan lainnya.
Dan lainnya.
Dan lainnya. 

Macem-macem sekali lah pokoknya strength setiap orang.
Jago-jago banget dan sangat-sangat seru!
Semoga bisa dipelajari, soon.

Alhamdulillah ala kuli hal.
(segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan)

--

Note:

(1)  "The computer is usually seen as a solely beneficial invention, which liberates human fantasy and facilitates efficient design work. I wish to express my serious concern in this respect, at least considering the current role of the computer in education and the design process. Computer imaging tends to flatten our magnificent, multi-sensory, simultaneous and synchronic capacities of imagination by turning the design process into a passive visual manipulation, a retinal journey. The computer creates a distance between the maker and the object, whereas drawing by hand as well as working with models put the designer in a haptic contact with the object, or space. In our imagination, the object is simultaneously held in the hand and inside the head, and the imagined and projected physical image is modelled by our embodied imagination. We are inside and outside of the conceived object at the same time." —Juhani Pallasmaa, The Eyes of The Skin: Architecture and The Senses