(entah kapan ini dituliskan)
"Riuh tepuk-tangan membuyarkan lamunanku. Tak sadar pidato panjang Kepala Sekolah ku lamunkan begitu saja. Ratu tiba-tiba mencolek lenganku, aku menoleh kaget. Air mukanya seakan menyuruhku untuk ikut bertepuk-tangan. Reflek tanganku bergerak. Ikut bertepuk tangan. Ya, aku segera menyadari situasi ini. Sebuah aula besar yang dipersiapkan untuk menyambut upacara kelulusan kami."
"Riuh tepuk-tangan membuyarkan lamunanku. Tak sadar pidato panjang Kepala Sekolah ku lamunkan begitu saja. Ratu tiba-tiba mencolek lenganku, aku menoleh kaget. Air mukanya seakan menyuruhku untuk ikut bertepuk-tangan. Reflek tanganku bergerak. Ikut bertepuk tangan. Ya, aku segera menyadari situasi ini. Sebuah aula besar yang dipersiapkan untuk menyambut upacara kelulusan kami."
Paragraf diatas adalah sepotong prolog tak jadi yang dipersiapkan untuk sebuah tugas besar pelajaran Bahasa Indonesia. Ya, tugas membuat sebuah cerita pendek di akhir semester.
Bukan cerita pendek yang ingin aku bicarakan, tetapi seseorang yang terdapat dalam potongan prolog tersebut. Seorang teman, sahabat.
Dia adalah seorang kawan yang kukenal di minggu pertama masa orientasi SMA. Seseorang yang kulihat untuk pertama kalinya, begitu polos seperti tanpa dosa. Entah mengapa, rasanya selalu menyenangkan bisa menghabiskan banyak waktu bersamanya.
(Hari ini, 4 November 2013)
Dan rasa itu masih sama. Dia ada didekatku. Di dalam lingkaranku.
(Hari ini, 4 November 2013)
Dan rasa itu masih sama. Dia ada didekatku. Di dalam lingkaranku.
No comments:
Post a Comment